Minggu, 26 November 2017

Sisi Lain Lewotana di Mata Kids Zaman Now


Tutu Koda #8


Minggu (12/11/2017) pukul 17:45-19:45 WIB di Kantin Realino Sanata Dharma telah dilaksanakan diskusi “Tutu Koda #8”, dengan tema, “Sisi Lain Lewotana di Mata Kids Zaman Now”.
Diskusi ini merupakan salah satu follow up dari Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan dan Malam Keakraban Keluarga Mahasiswa Adonara Yogyakarta (LDK & Makrab KMAY) tahun 2017.
Diskusi yang berbentuk konferensi ini menghadirkan 7 orang pemantik yang merupakan perwakilan dari tiap kelompok yang dibentuk pada saat LDK & Makrab KMAY. Peserta yang hadir dalam diskusi kali ini kurang lebih berjumlah 30-an orang.
Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Bosco Mawar (Kepala Bidang pendidikan KMAY) ini, setiap pemantik diberi kesempatan yang sama untuk menyampaikan hasil analisis sosial (ansos) terkait permasalahan di lewotana Adonara yang juga telah didiskusikan dalam kelompok pada saat kegiatan LDK & Makrab KMAY. Adapun garis besar konten penyampaian tiap pemantik, yakni sebagai berikut:
Pertama, ama Paskal Lewo, perwakilan kelompok Hedung mengangkat permasalahan terkait pola pikir masyarakat. Menurut mereka salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan peradaban suatu masyarakat adalah pola pikir, karena hal itu sangat menentukan tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat. Masalah-masalah yang terjadi di masyarakat tidak dapat terselesaikan dan akan semakin carut marut, jika masyarakat tidak memiliki pola pikir yang maju dalam menyikapinya. Misalnya masalah terkait pengangguran. Apabila suatu masyarakat memiliki pola pikir yang maju, maka mereka tidak hanya menunggu pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka, tetapi juga mereka berusaha dan berinisiatif untuk menciptakan lapangan kerja. Di sini pola pikirlah yang menentukan seperti apa respon masyarakat terhadap fenomena yang terjadi. Menurut kelompok Hedung hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni keterbatasan informasi, rendahnya tingkat pendidikan, dan kualitas pendidikan yang diterima oleh masyarakat.
Kedua, ama Erik Sabon, perwakilan kelompok Behiro. Mereka mengangkat persoalan terkait sampah. Bagi mereka permasalahan sampah ini terjadi dimana-mana. Untuk konteks Adonara permasalahan sampah ini banyak kita temui di ruang-ruang publik, terutama pasar. Sampah sangat mempengaruhi keindahan, kebersihan, dan kesehatan. Penyebab utamanya yakni kesadaran masyarakat yang masih minim dan ketersediaan fasilitas seperti tong sampah, bank sampah, dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang belum memadai.
Ketiga, ina Joanna, perwakilan kelompok Wuhu Amet mengangkat masalah terkait ketersediaan dan pemanfaatan fasilitas pendididkan. Hal ini tentu menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) besar dimana hingga kini fasilitas pendidikan di wilayah Kabupaten Flores Timur, terutama Adonara yang masih minim. Beberapa persoalan fisik dan fasilitas pendidikan masih menjadi PR kita bersama. Terkait pemanfaatan fasilitas pendidikan pun kita cederung masih tertinggal. Hal ini dapat terlihat dari lulusan-lulusan dari daerah yang tidak semuanya menguasai secara baik program-program praktis yang merupakan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa, seperti program Ms Word, Ms Exel, dll.
Keempat, ama Hali, perwakilan kelompok Dopi mengangkat persoalan terkait infrasturktur, terkhusus jalan. Bagi mereka hingga saat ini beberapa ruas jalan di Adonara masih rusak dan sempit. Ada beberapa penyebab masalah ini yang pada intinya bukan hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat. Tak dapat dielakan, bahwa hingga kini, tidak semua anggota masyarakat ikhlas merelakan sejangkal tanahnya untuk kepentingan pelebaran ruas jalan. Namun persoalan perbaikan jalan rusak tentu sangat diharapkan komitmen dari pemerintah.
Kelima, Kelompok Kenube diwakili oleh ina Oliv & Dewi mengangkat terkait masalah ketersediaan air bersih. Hal ini berangkat dari pengalaman empiris mereka, bahwa di kampungnya ketersediaan ari bersih masih minim. Selain persoalan terkait jumlah mata air yang terbatas, faktor penyebab lainnya, yakni infrastruktur penunjang seperti bak air dan pipa yang masih terbatas. Mereka juga memepersoalkan terkait penebangan pohon dan pembabatan hutan secara sembarangan. Sebab hal ini dapat menimbulkan turunnya debit air, bahkan bisa saja mata air akan kering.
Keenam, kelompok Mudu yang diwakili ina Priska mengangkat persoalan terkait pengangguran. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti minimnya lapangan pekerjaan dan maraknya praktek KKN dalam perekrutan pegawai. Di lain sisi penyebab pengangguran juga datang dari kaum terdidik seperti pelajar dan mahasiswa, yakni terkait rendahnya kemampuan membaca peluang serta minimnya wawasan serta keterampilan kita. Hal ini diperparah dengan mental dan orientasi kita. Banyak mahasiswa dari lewotana yang memiliki mental menjadi orang ‘kantoran’ dan orientasi menjadi PNS.
Sebenarnya itu sah-sah saja, tetapi jika itu menjadi satu-satunya orientas, maka tentu sangat tidak realistis. Karena kenyataan di lapangan jelas, bahwa jumlah pegawai dan PNS yang diterima sangat terbatas. Apalagi dengan kebijakan moratorium PNS seperti sekarang ini! Kaum terdidik, terutama mahasiswa tentu harus memiliki daya dalam menciptakan ruang atau kesempatan serta mampu memberdayakan sesamanya, terutama yang tidak memiliki kesempatan dalam mengakses pendidikan tinggi. Harusnya dengan potensi SDA dan makin banyaknya anggota masyarakat yang mengakses pendidikan jumlah pengangguran bisa ditekan. Salah satu caranya yakni dengan memanfaatkan SDA dan potensi kita di lewotana. Namun ini tentu butuh proses, sebab tidak mudah mengubah pola pikir dan menumbuhkan kesadaran masyarakat. Di sisi lain, komitmen pemerintah pun perlu digenjot!
Terakhir, dari kelompok tujuh, Nawing, yang kebetulan tidak berkesempatan hadir namun sempat mengirimkan materi yang disampaikan. Mereka mengangkat terkait masalah terkikisnya budaya lewotana, terutama dalam hal berpakayan. Bagi mereka, saat ini kaum muda lebih suka memakai model pakayan kebarat-baratan, yang jauh dari budaya timur. Kain-kain tenun yang merupakan kekhasan daerah makin ditinggalkan, walau akhir-akhir ini sudah ada beberapa upaya untuk mengangkatnya, termasuk pemerintah daerah. Kita perlu mendukung gerakan ini, hanya saja perlu sekali gerakan ini menjadi gerakan bersama semua elemen masyarakat dan bukan sebatas seremonial saja.
Kemudian saat sesi diskusi beberapa peserta menyampaikan tanggapan, komentar, dan ada yan memberikan masukan. Bahkan tak sedikit di antaranya yang menyampaikan kritik dan autokritik terhadap mahasiswa dan KMAY. Mereka yang turut menyumbangkan suara tersebut, di antaranya ina Natalia, ina Grace Gracella, ina Mervin, ama Vigis, ama Rian Rianghepat, ama Beni, dll. Satu hal dominan yang mereka soroti, yakni terkait masalah pengangguran.
Setidaknya ada dua hal pokok paling disoroti terkait persoalan pengangguran ini, yakni iklim politik/birokrasi di lewotana serta kapasitas individu kita sebagai mahasiswa. Tak dapat dipungkiri bahwa hingga kini praktek KKN yang dalam perekrutan pegawai pemerintahan/instansi di daerah, bahkan nasional masih marak terjadi. Politik kekeluargaan masih dekedapankan dalam perekrutan pegawai. Padahal setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mengakses itu. Apabila ditelaah fenomena maraknya praktek KKN dalam penerimaan pegawai ini, sebenarnya bukan hanya karena individu, yakni pejabat pemerintahan/birokrasi, tetapi sistem yang mencakup iklim politik/birokrasi kita yang buruk. Pimpinan instansi yang jujur bisa saja terjebak dalam kasus ini apabila dia tidak memiliki idealisme yang kuat serta nurani yang benar-benar baik. Kondisi ini apabila dibiarkan maka tentu akan berdampak negatif terhadap lewotana dan bangsa Indonesia. Sebab orang-orang yang direkrut dengan sistem seperti ini, tidak semuanya memiliki kompetensi yang relevan dengan bidang kerjanya, karena faktor kekerabatan yang diutamakan. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak terhadap kinerja mereka.
Berikutnya, terkait kapasitas individu yang mencakup pola pikir, wawasan, dan keterampilan individu. Sebagaimana diulas sebelumnya, bahwa pola pikir masyarakat sangat menetukan tindakannya. Apabila individu tersebut memiliki pola pikir yang baik dan maju maka kondisi iklim politik/birokrasi yang sudah terlanjur dikotori virus KKN ini bukan menjadi alasan sorang menjadi pengangguran. Oleh karena itu, pada tahap ini, kaum terdidik, terutama mahasiswa bukan hanya dituntut untuk menguasai atau mendalami bidang ilmunya saja, melainkan hal-hal lain yang berhubungan dengan soft skill atau keterampilan. Sebab apabila seorang mahassiwa tidak memiliki keterampilan, maka sudah dipastikan dia kelak akan menjadi pengangguran. Namun di sini yang ditekankan bukan hanya menguasai keterampilan untuk memperkaya diri sendiri, tetapi bagaimana dengan keterampilan itu dapat memberdayakan serta memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bekerja. Konkretnya adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan.
Untuk mencapai hal itu, maka mahasiswa selama kuliah perlu memanfaatkan ruang-ruang organisasi untuk menempah diri. Kemudian, mahasiswa juga perlu membanguan sebanyak mungkin relasi. Terakhir, memanfaatkan ruang belajar yang ada masyarakat. Yogyakarta ini memiliki bgitu banyak hal yang dapat dipelajari, misalnya terkait ekonomi kreatif dan pengembangan sektor budaya dan pariwisata.
Masalah-masalah di atas merupakan masalah-masalah yang nyata terjadi di lewotana. Jika digeneralisasi, maka sekiranya ada tiga masalah pokok, yakni terkait pengangguran, infrastruktur, pendidikan, dan kebudayaan. Dan jika kita kaitkan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur periode 2017-2022 maka tentu sangat relevan. Pertama, terkait pengangguran sudah ada program “Selamatkan Orang Muda Flores Timur”, yakni dengan cara membangun motivasi, pendampingan teknis, dan pendampingan permodalan; kedua, untuk masalah terkait infrastruktur baik air maupun jalan sudah ada program “Selamatkan Infrastruktur Flores Timur”, ketiga terkait pendidikan dan kebudayaan pun masuk dalam 3 kebijakan strategis dari pasangan Bupati dan wakil Bupati Flotim ini. Jadi, secara umum masalah yang saat ini dibahas dalam forum Tutu Koda #8 ini pun sudah menjadi masalah yang hendak ditangani atau masuk dalam agenda politk pasangan Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur periode 2017-2022.
Namun sebagaimana ulasan sebelumnya, bahwa kita jangan sampai hanya berharap pada pemerintah. Kita sebagai anggota masyarakat terdidik, harus mampu menjadi bagian dari solusi atas permasalahan tersebut, baik melalui gagasan maupun aksi nayata. Dan satu hal yang harus kita perankan yakni sebagai sebuah kekuatan moral dalam mengawal keterlaksanaannya janji-janji politik tersebut.
Oleh karena itu sebagai bukti sikap kita atas berbagai persoalan di atas dan didorong atas niat baik untuk selalu mengingatkan pemerintah dan masyarakat Flores Timur, maka bersamaan dengan rilis ini, kami yang terlibat dalam diskusi “Tutu Koda #8” menyatakan sikap kami sebagai berikut:
1. Mengecam berbagai bentuk praktek KKN terutama sistem perekrutan pegawai yang tidak profesional yang cenderung mengedepankan hubungan kekerabatan;
2. Mengharapkan pemerintah Flores Timur agar berkomitmen menyelesaikan persoalan kerakyatan seperti pengangguran, infrastruktur serta pendidikan dan kebudayaan sebagaimana yang telah diwacanakan di dalam visi, misi, program, dan kebijakan mereka saat Pilkada kali lalu.
3. Menghimbau kepada masyarakat Flores Timur, terutama pemuda dan mahasiwa agar terlibat aktif menjadi bagian dari solusi atas permasalahan di lewotana, baik melalui sikap, gagasan dan/atau aksi nyata.
Semoga Rera Wulan Tana Ekan, Tuhan YME menyertai dan membimbing kita semua. Amin.



_Forum Tutu Koda #8 Keluarga Mahasiswa Adonara Yogyakarta_
Cp.
0823 3931 0620 (Kabid. Pendikan KMAY)
0853 3324 9083 (Ketua KMAY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sisi Lain Lewotana di Mata Kids Zaman Now

Tutu Koda #8 Minggu (12/11/2017) pukul 17:45-19:45 WIB di Kantin Realino Sanata Dharma telah dilaksanakan diskusi “Tutu Koda #8”, d...